Potensi Wisata Terpendam yang Belum Digarap Maksimal
Berwisata ke Curug Embun, Kepahiang
Mungkin kebanyakan
masyarakat mengetahui keberadaan wisata air terjun Curug Embun di Desa
Tapak Gedung Kecamatan Tebat Karai hanya dari mulut ke mulut saja.
Walaupun demikian ternyata tingkat kunjungan masyarakat terhadap obyek
wisata tersebut terbilang tinggi. Sayangnya, kurangnya sentuhan dari
pihak Pemkab Kepahiang mengakibatkan obyek wisata air terjun tersebut
semakin kian terpendam.
Padahal jika obyek wisata tersebut
digalakkan Pemkab Kepahiang, tentunya masyarakat Kepahiang akan memilih
untuk ke Curug Embun ketimbang harus ke wahana wisata lainnya yang juga
banyak dikunjungi seperti halnya di Suban Air Panas, Rejang Lebong.
A GAFUR, KEPAHIANG
TUMBUHAN ilalang dan semak belukar pasti
mengantarkan setiap pengunjung apabila ingin memasuki kawasan obyek
wisata air terjun Curug Embun ini. Jadi jangan heran jika pertama kali
memasuki kawasan obyek wisata ini tidak ada pemandangan yang menarik
seperti di lokasi obyek wisata kebanyakan. Sepanjang perjalananan hanya
jalan setapak di kelilingi semak.
Bahkan kadang kala kita sempat berpikir
jika di daerah ini (Desa Tapak Gedung, red) ada obyek wisata air Terjun
Curug Embun yang terkenal dengan pemandangannya yang indah seperti
dikatakan kebanyakan orang. Berjalan sekitar kurang lebih 100 meter, apa
yang ada dibenak kita tersebut terbantahkan.
Pasalnya sewaktu menelusuri lereng curam
ke arah aliran Curug Embun kita bakal disambut dengan hawa sejuk dan
gemerecik suara air yang menandakan lokasi Curug Embun ini sudah semakin
dekat dan siap menyapa siapa saja yang datang.
Alhasil tiba di dasar aliran sungai yang menjadi aliran air Curug Embun
ini pemandangan indah air terjun seperti yang dikatakan kebanyakan
pecinta alam memang benar adanya. Bahkan suasananya lebih bagus dan
alami ketimbang air terjun yang pernah ada di daerah lain di Provinsi
Bengkulu.
Menariknya kawasan objek wisata Curug
Embun ini hanya dikelola oleh penduduk desa dan Karang Taruna setempat.
Bahkan sebelumnya tempat wisata ini tidak dijaga sama sekali dan
dibiarkan saja terbuka untuk umum.
Muncul pertanyaan mengapa pihak Pemkab
seolah lepas tangan akan pengelolaan obyek wisata ini, padahal jika
dikembangkan dan diperlihara oleh Pemkab tentunya obyek wisata ini juga
akan menghasilkan PAD dan juga menjadi aset berharga bagi daerah
Kepahiang.
Sewaktu dijumpai, penjaga objek wisata
Curug Embun, Ulil Amri, menyampaikan jika penduduk Desa Tapak Gedang
telah membuka objek wisata ini sejak lama, dirinya kurang tahu persis
sejak kapan masyarakat mulai mengelola tempat wisata ini. Tetapi yang
jelasnya begitu banyak masyarakat yang berdatangan kelokasi obyek wisata
ini, masyarakat didesanya langsung berinisiatif untuk melakukan
penjagaan terhadap aset wisata daerah tersebut.
“Sebelum ada penjagaan kawasan objek
wisata ini sering terjadi tindak kriminal seperti pemerasan, pencurian
sepeda motor atau hanya perusakan sepeda motor. Dulu kami buka untuk
umum, karena tidak ada penjagaan jadi sering sekali ada tindakan
kriminal di kawasan ini. Namun, sejak Karang Taruna menginginkan agar
kawasan ini dijaga, kami membersihkan tempat ini dan Alhamdulillah
kawasan ini sudah aman,” papar Ulil.
Selain itu, menurut Ulil nama Desa Tapak
Gedang akan kurang baik jika sering terjadi tindak kriminal di kawasan
itu. “Kami tidak ingin dipandang sebagai desa kriminal, bahkan dulu
sering kali ada polisi ke sini, namun sejak penjagaan ini objek wisata
ini sudah mulai banyak pengunjungnya, meski hanya penduduk lokal saja,”
lanjut Ulil.
Ulil juga menjelaskan, sejak ada
penjagaan mereka meminta pungutan kepada pengunjung. Namun hanya
pengunjung dari Desa Tapak Gedang dan sekitarnya saja yang tidak
dipungut bayaran. “Kalau warga sini kami tidak pungut bayaran dan begitu
juga desa tetangga. Namun jika pengunjung agak jauh kami pungut bayaran
Rp 1000. Hal ini hanya untuk biaya pemeliharaan kawasan ini saja,
misalnya menebas rumput dan ilalang menuju jalan masuk,” tambahnya.
Objek wisata air terjun ini, sambung
Ulil, sudah didaftarkan ke Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Perhubungan
(Disbudparhub) Kabupaten Kepahiang. “Jadi, dengan kami daftarkan ke
Disbudparhub, maka objek wisata ini sudah resmi. Namun, kepemilikan
tanah masih atas nama Mujianto dan kami berniat menjualnya utuh kepada
pemerintah atau orang mau menanamkan modal di sini,” terang Ulil.
Ulil menambahkan, bahwa setiap harinya
kunjungan paling banyak didmoninasi oleh pelajar secara rombongan.
“Jarang sekali ada pengunjung dari jauh, rata-rata pelajar sekitar
kawasan Kepahiang saja, tapi ada dikit yang dari luar. Bahkan
kadang-kadang tidak ada kunjungan. Maklumlah tidak ada promosi,
masyarakat tahu juga dari mulu ke mulut,” tandasnya.(505)